Kenapa Motor Drag dan Thailook Memakai Ban Cacing?

skip leg day

skip leg day

Beberapa hari yang lalu ada topik panas mengenai 2 motor berbadan lumayan gede (sebut saja CBR250RR dan Ninja 250 FI) dengan ban kecil alias ban resing alias ban cacing seperti gambar diatas. Komentar saya? never skip a leg day bro. Proporsinya aneh, traksi ban juga saya yakin nggak ada yang berarti nggak bisa dipake nikung apalagi harian, itu kenapa nggak pake standar samping atau paddock? malah dijatohin kayak anak kecil parkir sepeda aja, dsb. Buat saya sih tidak peduli bagaimana motormu dimodif kayak apa, mau dibakar juga nggak masalah selama kalau ada apa-apa jangan libatkan orang lain. Blog post kali ini bukan membahas modifikasi kedua motor tadi melainkan ban yang digunakan terutama mengapa motor thailook dan drag memakai ban berukuran kecil. Selama ini teman-teman saya yang pakai ban model begini ditanya kenapa bakai beginian rata-rata jawabnya nggak tau atau cuma ikutan trend. Karena penasaran, saya coba cari tahu alasannya yang hasilnya silahkan dibaca dibawah. Mohon koreksi apabila salah terutama bagi ahli ilmu Fisika.

Logikanya, semakin lebar permukaan ban = semakin besar daya cengkram ban keaspal yang membuat daya cengkram ban atau yang biasa disebut traksi semakin besar. Karena daya cengkram yang besar, otomatis kejadian seperti over spin atau burnout pada saat start bisa diminimalisir karena inilah salah satu kunci utama dalam start saat balapan. Ada kalanya, semakin lebar tapak ban maka semakin baik daya cengkramnya yang berguna saat start dan juga cornering. Lantas mengapa ban motor drag kecil-kecil begitu? ternyata alasannya juga ada pada traksi saat start dan berat.

Ban terbuat dari bahan dasar karet punya sifat sendiri yang sedikit beda dengan material lain seperti kampas rem misalnya. Ban membutuhkan suhu optimal agar daya cengkramnya semakin baik. Jadi kalau kampas rem semakin panas maka semakin hilang daya cengramnya, ban semakin panas semakin lengket ke aspal yang membuat kendaraan bisa menikung lebih kencang atau berakselerasi lebih baik walau kalau terlalu panas malah berakibat bannya hancur dan hilang traksinya. Inilah sebabnya mengapa di balap MotoGP misalnya sebelum start, ban motor dibungkus dengan pemanas ban. Selain dengan pemanas khusus, gaya gesek antara permukaan aspal dan permukaan ban juga menghasilkan panas sehingga tidak heran kalau sebelum start, pembalap drag akan melakukan burnout terlebih dahulu agar ban mendapat cukup traksi.

Kenapa ukurannya kecil? well, sebenarnya tidak semua ban motor drag ukurannya kecil. Diluar Asia Tenggara seperti Yunani dan Jepang yang juga punya event drag bike untuk motor kecil dibawah 250cc (meski kebanyakan 125cc bahkan 50cc untuk skuter) namun tidak sedikit yang memakai ban tapak lebar bahkan lebih lebar dibanding ban mobil LCGC walau diameter velgnya tetap 10 atau 12 inch. Dinegara yang lebih makmur dibanding negara dunia ketiga seperti Indonesia dan Thailand, ban slick dengan kompon lunak dan tapak lebar tentunya bukan sekedar mainan tim atau pembalap jutawan saja karena harganya yang cukup mahal dikantong orang Indonesia. Belum lagi, ban kecil punya kelebihan berupa beratnya yang ringan serta kecepatan rotasi yang lebih dibanding ban tapak lebar. Ini penting karena bobot juga berpengaruh mengingat teknologi yang jauh lebih canggih untuk modifikasi mesin seperti material eksotis untuk internal mesin, turbocharger sampai direct port injection nitrous oxide masih jarang ditemui disini.

Dengan kelebihan diatas, mengapa ban cacing “haram” dipakai di jalanan umum? dipikir secara logika, kalau ban cacing aman harusnya pabrikan motor diseluruh dunia sudah membekali produknya dengan ban cacing karena cost produksi yang lebih murah dibanding membuat ban bertapak lebar serta velg cast wheel. Selain itu, ban cacing memiliki bidang permukaan yang tergolong sangat kecil dan perlu diingat bahwasannya tekanan mempengaruhi gaya dan luas permukaannya karena semakin luas permukaan nya, semakin sedikit tekanan yang di peroleh. Jaman SMA dulu, guru fisika ngajarin pakai rumus P =  \frac{F}{A} . Ban cacing yang permukaanya kecil bertemu dengan sedikit tekanan seperti hajar polisi tidur, lubang atau pot hole, jalan kerikil (perlu diingat menurut CIA world factbook yang jadi acuan investor dunia, jalanan Indonesia masih ada 213,505 Km yang belum dibangun atau unpaved dari 496,607 Km menurut data tahun 2011). Belum lagi, gaya tekan yang diperoleh semakin besar seiring dengan bertambahnya kecepatan. Kalau hajar kerikil dikecepatan 20km/jam bisa membuat ban bocor, bisa jadi di kecepatan 40 km/jam membuat ban sobek. Karena hal inilah tidak lucu kalau sedang enak-enak jalan ban cacingnya malah meletus gara-gara kena kerikil dan sialnya ridernya jatoh kelindes truck. Contoh konkrit lainnya di dunia nyata kalau mau langsung coba, coba saja pukul ujung meja yang lancip itu dan bandingkan dengan memukul permukaan tengah tembok yang datar. Pasti rasanya lebih dasyat memukul ujung meja bukan?

Pertanyaan terakhir, kenapa modif Thailook pakai ban beginian? jawabannya ada di inspirasinya. Pernah dengar istilah RICER? kalau belum monggo dibaca Mengenal apa itu RICE dan RICER. Tidak semua hal yang ada di balap itu bagus diaplikasikan di kendaraan harian. Di Amerika nyetir Porsche 356 Spyder pake sabuk 2 titik jadul ala pembalap era 1930an berasa keren tapi kalo di beberapa negara Eropa, langsung diciduk tuh.

Buat penggunaan jalan raya atau harian, sudah lah gak usah ngeyel. Ini nggak boleh. Memang nggak ada pasal yang menunjuk langsung tentang ukuran ban, namun karena penggunaan ban yang terlalu kecil membahayakan, mas bro dan mbak bro biker sekalian bisa kena pasal 311 UU LLAJ tahun 2009 yang bunyinya sebagai berikut :

(1) Setiap orang yang dengan sengaja mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp.3.000.000,00 (tiga juta rupiah).Pasal 311 (1) Setiap orang yang dengan sengaja mengemudikan Kendaraan Bermotor dengan cara atau keadaan yang membahayakan bagi nyawa atau barang dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp.3.000.000,00 (tiga juta rupiah).

Ganti velg ke velg ruji boleh kok. Toh velg jari-jari punya kelebihan berupa lentur dan pas buat off road. Yang nggak boleh itu pengecilan ban.

Iklan

6 thoughts on “Kenapa Motor Drag dan Thailook Memakai Ban Cacing?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s