Mengapa Ayrton Senna Bisa Jadi Legenda F1

Hari Minggu ini pembalap F1 pertama dari Indonesia akan tampil pada race pertama di Melbourne Australia. Tentunya sebagai rakyat Indonesia yang baik, kita harus support Rio Haryanto minimal semangat atau doa biar bisa mengharumkan nama Indonesia dan lagu Indonesia Raya bisa berkumandang untuk pertama kalinya di ajang F1. Ya memang selain skill, dana dan keberuntungan juga dibutuhkan effort atau kerja keras agar bisa sukses diajang balap roda 4 paling bergengsi didunia ini. Salah satu pembalap sukses di ajang F1 ini adalah Ayrton Senna.

2296Buat yang seumuran dengan ane pasti bingung siapa sih Ayrton Senna? Senna adalah pembalap F1 yang lahir pada 20 Maret 1960 dan menjadi juara dunia 3 kali tahun 1988, 1990 dan 1991. Pembalap ini jadi idola bapak ane jaman 1980an sampai 1990an. Andai nggak diprotes simbah putri, nama ane sekarang juga Ayrton Senna gara gara bapak ngefans berat pembalap yang satu ini. Sayang Senna tewas pada 1 Mei 1994 ketika memimpin lap di GP San Marino di Italia. Walau sudah 20 tahun lebih Senna tewas, namun namanya masih diingat oleh para pecinta F1 diseluruh dunia. Kenapa? ya karena alasan alasan berikut.

Great Driver

Monaco-GP-wide-view-of-F1-on-Monte-Carlo-CircuitWaktu masih rookie kayak Haryanto sekarang, Senna bisa menang GP Monaco 1984 dalam kondisi hujan. Waktu itu juara dunia seperti Niki Lauda saja tidak bisa menguasai mobilnya dan akhirnya out karena hujan. Dari sebuah tim yang kurang begitu diperhitungkan saat itu (Toleman), dang rookie berhasil bertahan hingga akhir race yang dihentikan karena hujan makin lebat. Tepat sebelum Alain Prost menyentuh garis finish, Senna tiba tiba sudah berada di belakang Prost dan menyalip Prost ketika Prost berhenti didepan pengibar bendera. Senna mengira dirinya berhasil podium pertama walaupun beberapa saat kemudian, panitia mengumumkan Prost sebagai juaranya.

Hebatnya lagi saat itu Senna bukanlah yang tercepat karena masih ada Stefan Bellof yang menjadi Fastest Driver saat itu. Sejak saat itu Ayrton Senna jadi pemegang rekor sebagai pembalap yang paling banyak menang di Monaco dengan 6 kali kemenangan di Sirkuit yang di game F1 maupun Gran Turismo aja sudah susah banget. Oh iya, sebagai tambahan Senna ini membalap di jaman F1 masih serba manual. Transmisi masih full manual pake kopling, stir bundar kayak mobil biasa, nggak ada abs dll.

Senna ini juga terkenal sebagai rain master. Buktinya kala balapan di Donnigton Park Inggris 1993, ia melaju dengan santainya melahap berbagai tikungan seakan akan cuaca dan kondisi aspal sangat sempurna. Padahal pada saat itu balapan dimulai ketika hujan baru saja terang. Hampir semua pembalap juara dunia sebelumnya maupun yang akan datang seperti Michael Schumacer, Alain Prost, dan Damon Hill bahkan tidak bisa mendekati lap timenya.

Walaupun terlihat hebat kala nyetir, namun faktanya pembalap yang juga jago main catur dan sering mengalahkan pemilik tim dan master stategist Sir Frank William ini gaya nyetirnya begitu agresif. Senna lebih memilih menabrakkan mobilnya dibanding disalip lawan. Semua lawannya dihadapkan pada 2 pilihan berat. Mau membiarkan Senna lewat atau tabrakan. Kebanyakan dari pembalap F1 lainnya saat itu membiarkan Senna lewat saja daripada DNF namun tidak untuk Alain Prost yang jadi rival terdekatnya.

Brazilian People’s Hero

1991-aussieAPada grand prix Brazil tahun 1991, Senna menang tanpa ganti gigi. Gearbox mobilnya rusak sehingga tidak bisa pindah ke gigi lain selain gigi 6. Karena keinginannya untuk mewujudkan impiannya menang dihadapan pendukungnya di tanah kelahirannya, Senna berusaha dengan sangat keras menahan tuas transmisi agar tidak loss dan gearbox rusak total tidak bisa dipakai dan terjebak di gigi netral. Untungnya, ia berhasil menjadi juara saat itu walaupun kecapekan sampai tidak bisa keluar dari mobilnya dan harus dibantu.

Tidak hanya membanggakan rakyat Brazil di balapan saja. Senna ternyata juga seorang dermawan karena secara diam diam ia banyak menyumbangkan penghasilannya untuk membantu yayasan untuk anak anak dengan total sekitar $400 juta. Bahkan setelah kematinanya, yayasan yang didirikan oleh Senna masih berjasa untuk pendidikan anak di Brazil dan masih berjalan sampai sekarang.

Karena dianggap pahlawan, pada saat kematiannya pada 1994, hampir 3 juta warga Brazil mengantarnya ke pemakaman. Pemerintah Brazil saat itu bahkan menginstruksikan untuk mengibarkan bendera setengah tiang untuk menghormatinya. Semua pejabat di F1 dan pembalap senior maupun junior menghadiri pemakaman Senna saat itu. Hanya presiden FIA saat itu, Max Mosley yang tidak hadir karena ia mengunjungi pemakaman Roland Ratzenberger yang juga tewas di GP San Marino 1994. Saat ditanya mengapa, ia menjawab “Semua pergi ke Brazil untuk pemakaman Senna. Karenanya kami kesini untuk Roland.”

Setia Kawan

The 1986 World Championship contenders: (L to R) Ayrton Senna (BRA), Lotus; Alain Prost (FRA) McLaren; Nigel Mansell (GBR) Williams; Nelson Piquet (BRA) Williams. Formula One World Championship, Portuguese GP, Estoril, 21 September 1986.

The 1986 World Championship contenders: (L to R) Ayrton Senna (BRA), Lotus; Alain Prost (FRA) McLaren; Nigel Mansell (GBR) Williams; Nelson Piquet (BRA) Williams.
Formula One World Championship, Portuguese GP, Estoril, 21 September 1986.

Pada race di Spa 1992 , pembalap asal Perancis, Erik Comas mengalami kecelakan parah hingga mobilnya terbakar. Pada saat itu Senna sendang melintas dan melihat Comas. Dengan sigap, ia memberhentikan mobilnya dan menolong Erik Comas mematikan mesin mobilnya dan berusaha mengeluarkan dirinya dari mobil sebelum api membesar sebelum akhirnya tim medis dan pemadam kebakaran datang. Pada sebuah interview beberapa tahun kemudian, Erik Comas menjelaskan andai Senna tidak datang membantunya, mungkin ia sudah tewas terbakar saat itu.

Pada race terakhirnya, tim medis menemukan bendera Austria didalam kokpit mobilnya. Sehari sebelumnya, pembalap asal Austria, Roland Ratzenberger tewas saat kualifikasi  di GP San Marino 1994. Mungkin saat itu untuk memberikan penghormatan, Senna berusaha untuk memangankan balapan dan mengibarkan bendera Austria untuk menghormati kawannya itu. Sayang nasib berkata lain.

Alain Prost yang menjadi rival sejati Ayrton Senna walaupun terlihat keduanya bermusuhan sampai memuncak pada saat GP Jepang di Suzuka tahun 1989 dimana keduanya tabrakan memperebutkan racing line. Kala itu keduanya sedang ngotot berebut gelar juara dunia. Setelah crash, Prost out dan keluar dari mobil sedang Senna masih ngotot memenangkan race. Sayangnya Senna didiskualifikasi dan jadilah Prost yang menang. Hubungan keduanya seperti makin keruh saja sampai akhirnya Prost pensiun tahun 1993. Namun, pada tahun 1994 Senna menyapa rival abadinya tadi melalui siaran TV Perancis, Channel TF1. Sewaktu diwawancarai ia berkata “A special hello to my,… to our dear friend Alain. We all miss you Alain.”  (spesial halo untuk temanku,…. teman kami Alain. Kami semua merindukanmu Alain.) Prost sendiri mengatakan bahwa ia terkejut dan tersentuh setelah mendengar komentar tersebut.

The Man Behind Honda NSX Supercar Performance

Senna_NSXSaat masih di tim Lotus Honda tahun 1987, Senna sudah menjalin kedekatan dengan bos Honda saat itu. Karenanya tidak heran Honda meminta Senna untuk mengembangkan supercar pertama dari Jepang itu. Saat disuruh mencoba prototype Honda NSX, Senna merasa kurang puas akan performanya. Akhirnya Senna diberi kesempatan untuk menjajal prototype dan mengembangkannya di sirkuit Suzuka yang seolah olah menjadi laboratorium pribadinya.

Tujuan dari Honda NSX adalah dapat mengalahkan semua supercar yang datang dari Jerman maupun Italia. Hanya saja karena pada saat itu semua mobil Jepang hanya dibatasi tenaga maksimumnya sampai 276Hp saja, Honda meminta agar NSX bisa sangat cepat di sirkuit. Atas pendapat Senna, NSX produksi masal memiliki karakter suspensi dan sasis yang jauh lebih baik dan dapat mengalahkan supercar asal Italia dan Jerman yang bertenaga jauh diatasnya di sirkuit.

Atas jasanya ini, Honda pada tahun 2011 menghidupkan hantu Ayrton Senna dengan rekaman rekaman suara mobil McLaren MP4/5 di Suzuka. Dipadukan dengan lampu yang mengelilingi sirkuit dan mengikuti arah suara rekaman mobil Senna membuat hantu Senna ini begitu hidup dimata fansnya.

Too Much Tribute that doesn’t enought

ayrton-senna-will-be_600x0wSetelah kematiannya, tim F1 Williams selalu memasang logo atau potrait Ayrton Senna di beberapa sudut mobilnya untuk menghormati Ayrton Senna. Ini dikarenakan Senna tewas saat mengendarai mobil Williams FW16.

Pembalap F1 asal Brazil, Bruno Senna yang juga merupakan keponakan dari Ayrton Senna kembali membalap dan bahkan sampai pada level F1 juga karena dipanasi oleh adik perempuan Senna yang juga merupakan ibu dari Bruno Senna.

Sebagai pembalap yang sangat peduli akan safety, setelah kematiannya F1 berubah total dengan menambahkan berbagai perangkat keselamatan. Penambahan penambahan ini bisa menyelamatkan nyawa pembalap F1 dari kematian. Hingga saat ini, belum ada pembalap F1 yang meninggal karena kecelakaan pada saat race berlangsung.

Game Gran Turismo 6 juga membuat tribute for Ayrton Senna pada tahun 2014 kemarin. Berupa semacam tambahan dimana kita memulai racing career dari balap gokart sampai f1 Senna. Produk ini merupakan dukungan Gran Turismo ke Ayrton Senna Institute yang menangani pendidikan anak di Brazil yang merupakan impian Ayrton Senna sebelum meninggal.

Wih ternyata banyak juga ya… capek ngetiknya. Semoga saja tulisan ini menginspirasi pembaca sekalian. Semoga juga Rio Haryanto juga bisa menjadi Indonesian people’s hero di ajang F1 ini seperti apa yang dilakukan oleh Ayrton Senna. Rio Haryanto, we count on you.

Ayrton Senna Sempre (1960-1994)

Kunjungi juga blog satunya di www.mobilmotorlama.com ya.

Iklan

3 thoughts on “Mengapa Ayrton Senna Bisa Jadi Legenda F1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s