Plesiran Gratisan ala Anak Kos

Minggu 16 November 2014 kemarin ane beserta 5 orang temen ane jalan jalan ke sekitaran Kabupaten Sleman dan Gunung Kidul guna nyari gambar buat final project matkul Komputer Grafis yang disuruh bikin desain majalah. Berhubung ane gajian tiap hari senin (baca : sangu) jadilah uang 20000 harus cukup buat nyari gambar sekaligus plesiran ke minimal 4 tempat. Kumpul di kosan temen di daerah Mancasan Lor, Sleman Yogyakarta buat start yang rencananya dijadwalkan jam 7 pagi malah molor gara gara beberapa orang (termasuk ane :mrgreen: ) bangun kesiangan dan akhirnya membuat jadwal start diundur sampai sekitar jam 10 pagi.

Tujuan pertama adalah sebuah SPBU di daerah bandara Adi Sucipto dikarenakan ke3 sepeda motor yang dipake (Mio karbu, Satria F, Vario Techno). Ketiganya kompak membeli bensin rakyat jelata (premium) sebanyak 2,223 liter (15ribu waktu harga perliternya 6500). Setelah selesai langsung bejek gas ke arah candi Prambanan guna menjemput anggota terakhir sekaligus sang navigator.

Candi Sorojiwan

Candi Sorojiwan

Perjalanan pertama menuju arah candi Sojiwan yang letaknya tidak jauh dari candi Prambanan. Karena tidak adanya tempat parkir ya udah terpaksanya parkir didepan pekarangan rumah warga :mrgreen: . Untuk masuk ke candi ini sama sekali tidak dipungut biaya alias gratis. Yang penting lapor petugas yang menjaga pintu masuk saja. Setelah puas menggali informasi sekaligus foto-foto akhirnya kami kembali menuju motor masing masing buat nerusin perjalanan, eh tidak diduga ternya yang punya rumah muncul dan kami ditariki uang parkir sebesar 2000 rupiah per sepeda motor.

IMG_20141115_110241

Candi Barong

Perjalanan selanjutnya naik ke bukit (nggak tau bukit apa namanya, yang penting ikut petunjuk dari navigator saja) dan menuju ke Candi Barong. Disepanjang jalan yang berkelok kelok naik turun kami disambut oleh ratusan pohon jati dipinggir jalan yang gugur daunnya karena musim kemarau (lebay). Setibanya disana kami parkir dilahan kosong didepan komplek candi. Dan sama seperti sebelumnya untuk masuk harus lapor ke satpam terlebih dahulu. Setelah puas menggali informasi sekaligus foto-foto akhirnya kami kembali nerusin perjalanan. Karena sudah gerimis langsung aja mengambil jalan pintas buat ke objek selanjutnya. Jujur saja, jalan yang dilalui jelek banget, beberapa kali terdengar suara gemlodak dari kaki kaki Vario Techno yang saya pakai. Karena takut terjadi apa apa mending pelan pelan aja walaupun udah ditinggal jauh sama 4 orang rekan saya yang naek mio sama satria. Setelah melewati SMP yang letaknya berada di tanjakan akhirnya kami tiba di Candi Gedong Ijo.

Candi Gedong Ijo

Candi Gedong Ijo

Sampai di tujuan tiba tiba gerimisnya berhenti dan matahari kembali menyinari. Seperti biasa untuk masuk cukup lapor petugas yang berjaga. Puas foto foto dan nyari informasi, berhubung perut udah nggak bisa diajak kompromi lagi, kami langsung nyari tempat makan. Karena bingung campur putus asa dari tadi nggak nemu warung makan yang sekiranya harganya bersahabat sama kantong dan porsinya lumayan banyak :mrgreen: . Akhirnya kami semua sepakat mampir ke rumah salah satu rekan kami yang kebetulan desanya berada tepat dikaki bukit yang kami naiki ini.

Roti sejuta umat

Roti sejuta umat

Setelah merasa cukup ngobrol, basa basi, istirahat dan panik gara gara ada tugas yang mendadak harus dikumpulkan saat itu juga. Perjalanan dilanjutkan ke gunung api purba Nglanggeran yang berada di wilayah kecamatan Pathuk Gunung Kidul. Berhubung didompet cuma tersisa uang 1000 perak terpaksanya blusukan ke pelosok desa buat nyari jalur alternatif biar nggak kena biaya masuk 😀 . Karena tiba tiba hujan turun deras ditambah kami semua terlanjur basah kuyub dan matahari terlihat hampir tenggelam (padahal ketutup awan mendung) perjalanan terus dilanjut aja. Beberapa kali mio yang dinaiki temen ane harus didorong karena nggak kuat nanjak. Padahal ane yang naik vario sama temen yang naik satria santai santai aja melibas tanjakan yang nggak curam curam amat. Saat hampir tiba dipuncak vario ane malah ikut ikutan nggak kuat nanjak sehingga sang boncenger pun terpaksa harus turun dan bantuin dorong. Sampai disitu masih ada ujiannya ternyata. Sehabis tanjakan ternyata jalan yang tadinya disemen sudah habis. Terpaksanya lewat jalan tanah yang becek karena hujan tadi sambil mendengarkan orkes kaki kaki gemlodak.

IMG_20141115_155208

suasana dipuncak

puncak

puncak

Sampai dipuncak langsung keluarin kamera DSLR terus foto foto. Nggak kerasa udah 30 menit disana. Kamipun segera turun, berhubung jalanan licin ditambah ane pake ban slick (baca : ban botak) ane sempat terpeleset lumpur dan untungnya nggak sampai jatuh (ngeri… pinggirnya jurang padahal). Karena udah pada capek, kedinginan plus lapar (siangnya cuma makan indomie rebus sama roti merk avanza saja soalnya) ya udah langsung balik saja ke arah Yogyakarta buat balik ke kosan masing masing.

Terparkir

Terparkir di gunung api purba nglanggeran

Sumary:

  1. Keluar bensin premium Rp15000 (harga per liter masih Rp6500) dan masih sisa setengah tangki
  2. keluar Rp4000 buat parkir (Candi Sojiwan sama Candi Gedong Ijo)
  3. Dapet capek plus foto 😀
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s